Top
  /     /   Kabar Seni Rupa IKJ

Laporan Batik Pesisir dan Kaos Pitungan

Buku ini merupakan Laporan Kegiatan Pembuatan desain – desain T – shirt “Pitungan” dan “Batik Pesisir” yang digarap oleh Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta atas persetujuan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dalam rangka Pencitraan Kepariwisataan Jakarta Utara yang dicanangkan sebagai brand image pada Juli 2011.

A. Pentingnya Ikon dalam Pembentukan Citra Pariwisata

Identitas dan citra perusahaan terbentuk oleh keseluruhan persepsi dari pemangku kepentingan. Citra perusahaan (corporate image) dapat dinilai sebagai nilai lebih lembaga dalam meningkatkan kredibilitasnya di pandangan masyarakat. Berkait dengan hal ini, maka corporate image dan brand image idealnya merepresentasikan dan mengekspresikan brand personality. Tiga faktor pembentuk brand image tersebut:

1. Kesadaran terhadap produk organisasi, persepsi terhadap budaya, dan kepribadian dari perusahaan. (brand awareness, brand personality, dan brand culture)

Brand tidak hanya sebatas simbol yang terdiri atas beberapa elemen bentuk dan warna, tetapi lebih dari itu. Brand memiliki nilai bersifat emosional (intangible) yang jauh lebih besar dari sekedar bentuk atau tempelan yang digunakan sebagai hiasan sebuah produk. Ada begitu banyak ragam produk di pasaran. Terkadang brand yang satu dengan yang lain mengeluarkan jenis produk yang sama atau memiliki kemiripan. Akhirnya yang membedakan mereka adalah bagaimana setiap brand tersebut memiliki citra tersendiri yang terbangun di benak masyarakat, dam membangun loyalitas.

Untuk menentukan brand image, tidak terlepas dari symbol atau ikon yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai ikatan nilai emosional. Sementara ikon dapat diartikan sebagai bentuk atau gambar yang memiliki ikatan atau terkait dengan suatu tradisi yang bertujuan untuk membentuk pikiran orang yang melihatnya menjadi terfokus. Atau dengan kata lain ikon berkaitan erat dengan citra dan pencitraan (brand image). Bagaimana mencitrakan suatu keadaan dalam hal ini kepariwisataan, tidak terlepas dari identitas budaya masyarakat setempat, atau hal utama yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai ciri utama yang tetap.

Untuk pencitraan kepariwisataan Jakarta Utara ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Satu diantaranya adalah dengan mengangkat ikon, sesuatu bentuk atau gambar yang dilambangkan dan dapat diasosiasikan dengan keadaan yang senyatanya. Ikon memiliki ciri atau tanda – tanda yang khusus digunakan sebagai pembeda dari lainnya. Dapat disimpulkan bahwa
upaya pencitraan kepariwisataan daerah tidak terlepas dari kehadiran sebuah ikon yang menandai eksistensi daerah tersebut. Atau dengan kata lain, daerah tersebut memiliki tanda yang khas – yang hanya ada di daerah tersebut sebagai sebuah keunikan. Daya tarik wisata utamanya terletak pada keunikan itu sendiri, dan hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu langkah pencitraan kepariwisataan daerah.

Kepariwisataan Jakarta Utara, memiliki beberapa modal budaya (cultural capital) yang memiliki prospektif dalam mengangkat daerah dan diyakini berpotensi mendorong tingkat kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan pariwisata.

1. Jakarta Utara memiliki Prasati Tugu sebagai monumen bersejarah, penanda bahwa di lokasi tersebut dahulu merupakan tempat permukiman penduduk Jakarta pada masa Kerajaan Tarumanegera, salah satu kerajaan tertua di Indonesia.

2. Kota Administrasi Jakarta Utara secara geografis memiliki potensi besar untuk mendukung aktivitas kota yang dinamis, melalui penataan kawasan wisata pesisir dengan 12 jalurnya dengan menggalakan situs – situs sejarah dan budaya lokal.

3. Salah satu peninggalan bersejarah, berupa rumah Si Pitung dengan cerita legendarisnya merupakan simbol budaya masyarakat Betawi, khususnya Jakarta Utara yang memiliki sejarah panjang dapat mengangkat emosi dan kesadaran masyarakat Betawi untuk bangkit bersama – sama membangun kepariwisataan Jakarta Utara.

4. Komitmen Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara untuk melakukan perubahan yang positif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (a.l. industri hotel dan travel biro, restoran dan tempat – tempat hiburan), terutama masyarakat local yang menurut beberapa sumber pemberintaan sampai saat ini masih hidup miskin di pemukiman – pemukiman padat dan tinggal nomaden di kolong – kolong tol.

Dengan langkah pencitraan kepariwisataan melalui pencanangan ‘Pitungan’ dan ‘Batik Pesisir’ Jakarta Utara akan membedakannya dengan wilayah – wilayah lainnya sebagai bentuk kompetisi. Pada akhirnya ‘Pitungan’ dan ‘Batik Pesisir’ Jakarta Utara ini memberikan tanda agar masyarakat Jakarta Utara dapat bersama – sama membangun loyalitas dalam menciptakan usaha di bidang kepariwisataan untuk meningkatkan kesejahteraannya. ‘Pitungan dan Batik Pesisir yang diluncurkan pada tanggal 16 Juli 2011 oleh Walikota Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara dipastikan bakal memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan pariwisata Jakarta Utara. Tidak hanya itu sebagai predikat Jakarta Utara sebagai Kota tua, bagi Bangsa Indonesia pada umumnya, dan bagi Jakarta khususnya.

B. Pitungan – Peleburan Identitas diri dan Identitas Kultural

Sesuai dengan proposal proyek yang telah diajukan dalam rangka membuat brand Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara yang mengangkat tokoh legenda dari Masyarakat Betawi pada masa lampau, yaitu Si Pitung ke dalam bentuk visual, berupa desain – desain T – Shirt dan beberapa contoh produknya diharapkan dapat mencerminkan filosofis ‘Think Globally, Act
Locally’.

Secara konseptual, ‘Pitungan’ diilhami oleh nama tokoh legendaries Si Pitung yang dikenal oleh masyarakat Betawi tempo dulu yang kemudian berlanjut hingga kini sebagi seorang pendekar – seorang jagoan, jawara, hero/pahlawan masyarakat Betawi atau masyarakat Jakarta. Namun karena rumah Si Pitung terletak di Kampung Marunda, maka Si Pitung menjadi lebih dikenal oleh masyarakat Betawi yang berasal dari Marunda yang masuk dalam wilayah Jakarta Utara. Atau bisa dijadikan brand tagline Jawarenya Jakarta Utara.
Pitungan juga memiliki arti hitungan. Istilah pitungan ini di dalam masyarakat Bali berarti musyawarah. Dari kedua pengertian ini kemudian dikaitkan dengan upaya pencitraan kepariwisataan Jakarta Utara dapat dimaknai bahwa Jakarta Utara secara musyawarah patut diperhitungkan dalam kancah global. “Think Globally, Act Locally”. Bagaimana melalui “Pitungan” sebagai ikon kepariwisataan Jakarta Utara dapat menembus pasar dunia.

C. Wisata Pesisir Jakarta Utara Menembus Pasar Internasional

Hal utama sebagai penentu keberhasilan pengembangan kepariwisataan daerah terletak pada ada tidaknya daya tarik wisata sebagai sebuah keunikan, baik itu yang barbasis alam, budaya maupun kombinasi dari keduanya. Memang tidak dipungkiri bahwa wilayah Jakarta utara memiliki peninggalan bersejarah yang masih terus dipelihara kelestariannya. Namun demikian, ada nilai keunikan lain yang justru menjadi daya tarik Jakarta Utara, yaitu potensi geografisnya.

Potensi geografis itu sendiri merupakan Posisi strategik Jakarta Utara sebagai satu – satunya daerah di Provinsi DKI Jakarta yang berbatasan dengan Laut Jawa. Jakarta Utara memiliki potensi kebaharian, dan ini merupakan keunikan wisata pesisir yang tak ada duanya. Lokasi geografis yang sangat strategis ini memungkinkan Pariwisata Jakarta Utara berkembang lebih pesat sebagai salah satu faktor utama yang diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam upaya pertumbuhan ekonomi yang sedang dilaksanakan. Terlebih dengan dicanangkannya Jakarta Utara oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo sebagai etalase Kota Jakarta yang memiliki 12 jalur destinasi wisata pesisir.

Menindaklanjuti hal ini, maka Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara secara bertahap melakukan perbaikan infrastruktur di beberapa lokasi wisata pesisir ini. Termasuk arah atau jalur masuk ke lokasi Masjid Al Alam dan Rumah Si Pitung yang telah ditinggikan dan dibenahi sebagai salah satu fasilitas yang disiapkan untuk para pengunjung, wisatawan dan masyarakat local. Berbagai macam bentuk promosi pun dilakukan, salah satu langkahnya adalah pencitraan kepariwisataan Jakarta Utara. Diharapkan dengan pencitraan kepariwisataan Jakarta Utara melalui ‘Pitungan’ dan ‘Batik Pesisir’ dapat lebih menarik kunjungan wisatawan, tidak saja dari nusantara, tetapi juga mampu meningkatkan motivasi dan special interest dari wisatawan mancanegara.

Melalui kebijakan penetapan misi pengembangan tata ruang Jakarta Utara untuk mendukung pengembangan kawasan pelabuhan industri selektif di bagian timur dan pusat niaga terpadu berskala internasional di bagian tengah pantura, diyakini akan mempercepat pengembangan wisata pesisir Jakarta Utara menembus pasar dunia, pasar internasional.

 

D. Visualisasi Pitungan dan Batik Pesisir, Strategi Pelestarian Warisan Budaya Dunia

Pitungan dan Batik bukan sekedar ikon atau pembentuk brand image, lebih jauh lagi adalah pembentukan identitas budaya masyarakat Kota Jakarta Utara. Dengan melestarikan Batik sebagai warisan budaya Indonesia juga sudah dideklare oleh UNESCO pada tahun 2009, maka upaya setiap anak bangsa, setiap daerah (Jakarta Utara) wajib menjaga dan melestarikan
serta mengembangkan dengan mengambil motif – motif dari kekhasan daerah tersebut. dalam hal ini 12 jalur wisata adalah bentukan klaster yang menjadi modal dasar potensi Jakarta Utara yang memang dikembangkan sebagai destinasi wisata pesisir. Pitungan adalah tokoh legendaries yang
mengandung mitos dan sampai saat ini masih dipercaya, bahkan telah menjadi ikon Jakarta Utara dengan sebutan “Pitungan” Sebagai Pusat tradisi budaya masyarakat Jakarta Utara dalam berbagai bentuknya untuk pencanangan kali ini diwakili oleh 15 desain t- shirt.

Nantinya akan berkembang dengan bentuk – bentuk desain yang lebih bervariasi dengan tetap mengangat tema pitungan. Produknya pun akan lebih bervariasi, bukan hanya sebagai manifestasi dari Sapta Pesonan dengan butir ketujuhnya “Kenangan”, tetapi sesuai dengan visi dan misi
organisasi untuk tetap melestarikan budaya bangsa, sekaligus menghargai para pahlawan dan tokoh legendaries Jakarta Utara.

Pitungan dan Batik sebagai ikon Jakarta Utara agar mengena di benak pikiran masyarakat sehingga mereka merasa bangga dengan identitas budayanya, bersemangat untuk mengembangkannya dapat “menandai” evolusi hubungan yang harmonis antara pemerintah, karya – karya seni, dengan masyarakatnya. Artinya bagaimana konten intelektual yang beragam ini memiliki manfaat bagi pembentukan identitas budaya masyarakat Jakarta Utara.

Melalui pencanangan ‘Pitungan’ maka dibuat desain dan produk T-shirt yang menggambarkan ciri khas tempat pariwisata di Jakarta Utara, seperti: menara syah bandar, muara karang, museum bahari dan lainnya. Desain kaos ini juga disertai dengan kalimat-kalimat yang bercirikan dialek Betawi seperti :”ente jual ane beli”. Dan makna filosofis untuk menanamkan nilai – nilai kejujuran dan disiplin diri yang dimiliki oleh tokoh ‘Si Pitung’.

 

 

Sebarkan :

Post a Comment

Daftar